Info Seputar Uang

Perkembangan Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia

Perkembangan Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia_Tidak bisa dipungkiri lagi, jika kini ada begitu banyak lembaga keuangan entah yang berupa bank, pegadaian, asuransi hingga pasar modal dalam sistem keuangan syariah. Perkembangan keuangan syariah di Indonesia sendiri cukup baik mengingat banyak orang, terutama umat muslim, melakukan transaksi keuangan melalui lembaga keuangan syariah. Perkembangan lembaga keuangan syariah terutama bank, hingga kini mencapai kurang lebih 3119 unit kantor. Jumlah tersebut sangat tinggi dan memberikan suatu bukti yang nyata jika lembaga keuangan syariah, banyak diminati. Hal ini berbanding terbalik dimana pada tahun 2007, lembaga keuangan syariah hanya berkisar 925 unit kantor.
Perkembangan Keuangan Syariah di Indonesia
Meski demikian, banyak masyarakat yang memilih menggunakan jasa bank konvensial, karena menganggap jika bank syariah lebih mahal. Padahal jika mau dipelajari lebih lanjut, bank syariah, merupakan lembaga keuangan yang menerapkan sistem bagi hasil antara pemilik modal dan peminjam modal.

Prinsip lembaga keuangan syariah
Beberapa hal di bawah ini merupakan prinsip keuangan dalam lembaga keuangan syariah yang didasarkan pada Al qur’an serta AS Sunah.

1. Adanya pelarangan riba
Keberadaan riba merupakan sistem keuangan yang membuat pihak pemberi modal untung banyak sementara mereka yang diberi pinjaman, bisa jadi semakin susah. Pihak peminjam seringkali kesulitan dalam memenuhi bunga dengan nilai yang cukup tinggi.

2. Adanya pemberian resiko
Hal ini dianggap sebagai konsekuensi masuk akal ketika tidak adanya penerapan bunga. Mereka yang menginvestasikan harta di lembaga keuangan syariah, akan mendapatkan bagi hasil, entah rugi ataupun hasil, akan dilihat dari seberapa banyak hasil usaha yang diperoleh si pengusaha.

Adanya pemberian resiko, membuat pihak peminjam ataupun pemberi pinjaman saing bahu membahu memajukan bisnis yang dilakukan. Alhasil, akan ada keadilan bagi pemilik serta pihak peminjam modal karena sama-sama berjuang memajukan bisnis yang dibuat.

3. Kesucian kontrak
Lembaga keuangan syariah menerapkan adanya kesucian kontrak yang mana kontrak harus diungkapkan secara jelas sebelum akhirnya melakukan kerjasama. Dengan adanya kontrak yang jelas, akan mampu mengurangi resiko terjadinya perselisihan di akhir.

4. Larangan untuk berspekulatif
Larangan ini dilakukan untuk menghindari potensi munculnya judi, tingkat kepastian usaha yang tidak pasti hingga transaksi dengan resiko kerugian yang besar. Keberadaan spekulatif bisa terbilang mirip dengan sistem judi yang dilarang oleh Islam.

5. Uang bukanlah modal yang potensial
Sistem keuangan Islam, tidak menganggap uang sebagai modal yang potensial, melainkan dibarengi dengan sumber daya manusianya yang baik dalam memperoleh keuntungan.

Dengan adanya prinsip syariah di atas, keuangan yang dijalankan dalam lembaga ini menjadi lebih baik dengan menghindari yang namanya riba. Hal ini tentu cukup membedakan antara lembaga keuangan syariah dengan lembaga keuangan konvensional.

Perbedaan yang cukup kentara dalam kedua lembaga keuangan konvensional dan keuangan syariah, terletak pada untung rugi yang harus ditanggung oleh nasabah. Pada lembaga keuangan konvensional, nasabah diharuskan mengembalikan uang sejumlah nilai yang telah dipinjam berikut dengan bunga yang telah ditetapkan.

Mereka yang membuka bisnis melalui modal dari bank, akan sekuat tenaga membayar dana terkait agar kepemilikan aset tidak disita. Dalam hal ini, pedagang memiliki potensi yang cukup besar dalam melakukan kecurangan ataupun kelicikan dalam melakukan transaksi niaga.

Berbeda dengan lembaga keuangan syariah, lembaga ini menerapkan adanya sistem bagi hasil. Alhasil pengembalian yang dilakukan tidak tetap melainkan bergantung pada sukses tidaknya usaha yang tengah dijalankan. Melalui sistem bagi hasil, pemilik dan peminjam modal akan saling berusaha keras memajukan bisnis yang dibuat supaya tidak merugi akhirnya.
Back To Top